Friday, October 7, 2016

Mimpi juga bagian dari Hidup


"Setelah bertahun-tahun aku baru mulai memberanikan diri untuk memposting ini, dan setelah bertahun-tahun aku menyadari arti puisi ini, salah satu puisi yang menjadi favorit kedua saya setelah 'Peri Kecil yang cantik' yang juga ditulis oleh salah satu penyemangat kala itu"  

Mimpi juga bagian dari hidup.
(J.B.N)


Untuk mu yang diambang kepasrahan hidup.
Pernahkah terlihatmu sekilas,
Orang orang berjas bersafari,
Orang-orang hebat bermartabat,
Yang dari wajahnya saja, kita bisa melihat bagaimana hidupnya?


Sedang dirimu sekedar melihat? Membisu?
Sekedar teriakan takkan mengubah hidup mu.
Jangan berpikir hidup ini tidak adil,
Karena mereka juga pun pernah bermimpi.

Mereka pernah sepertimu
Orang orang seperti mu, seperti kita,
Akan mati tanpa mimpi.


Hidup ini keras, teman.
Karena hidup pun takkan pernah mau membuat mu berpikir,
Perjalanan meraih mimpi mimpi itu akan mudah.
Jangan pernah pikir,
Di jalan yang baru takkan ada kerikil yang lepas.
Kalau mau hidup, kuatkan, yakinkan mimpi mu!


Untuk mu yang diambang kepasrahan hidup. Dengarlah.
Kau jangan hanya berpikir, akan jadi apa hidupmu.
Ada seseorang yang luar biasa dalam hidupmu,
Dia melihat mu, mimpinya.


Lihatlah dia dengan baju safari satu satunya,
Yang tidak dia gunakan untuk apapun,
Sekalipun untuk menemui presiden.
Dia hanya memakainya untuk mu,
Yang dia perjuangkan, bahkan engkaulah mimpinya.


Percayalah,
Kalau mimpi juga berkat Tuhan.
Mimpi itu dari Tuhan, sama seperti hidup.
Tuhan tak pernah memberi mimpi tak teraih,
Mimpi adalah bagian hidupmu,
Yang membawamu ke hidup yang kau harapkan

Surat dari masa depan


"Surat ini kudapatkan dari salah satu teman baik pada masa itu"


Dear Kamu yang sedang membaca,
                Aku adalah dirimu yang ada dimasa depan. Pada masa ku, mengirim surat ke masa lampau adalah hal yang trend. Sayangnya teknologinya masih kurang sempurna karena untuk melakukannya kita seakan-akan melempar botol berisi surat kelautan. Aku butuh orang lain supaya surat ini sampai kepadamu. Kalo surat ini berhasil kau baca, berarti eksperimen ku berhasil :D cihuuuy.
                 Hey,,,  pada masa ini aku merasa sangat bahagia. Aku berhasil mendapatkan semua yang kurencanakan dulu, yaaa meski ada yang hilang di beberapa poin. Sekalipun begitu, semuanya berjalan tak mudah. Aku harus berkali-kali harus jatuh bangun. Cobaan yang kudapatkan semakin lama semakin mengikis tembok kesabaranku. Tuhan yang menjadi sahabatku sepertinya belum mau merespon harapan ku. Orang-orang disekitarku yang seharusnya ada bersamaku malah menjegalku dari belakang. Pada saat itu aku sudah mulai merasa sangat takut.
                Seperti yang kukatakan di awal, pada akhirnya aku berhasil melalui semuanya. Aku bahagia. Aku mampu menari didalam badai, mengikuti setiap gaya yang diberikannya. Tuhan juga pada akhirnya menjawab doaku meski tidak sepenuhnya seperti yang kuharapkan. Yang pasti aku sekarang menjadi lebih baik. Aku menjadi suatu kebanggaan bagi orang yang kusayangi. Aku mampu melihat mereka tersenyum disetiap detiknya.
                Lalu, bagaimana dengan dirimu? Aku belum tahu pasti posisimu sekarang disana seperti apa. Tapi, aku ingin mengingatkanmu bahwa segala cobaan atau bahagia yang kau rasakan sekarang adalah bagian-bagian berharga dari hidupmu. Kau berhak merasa sedih sama halnya seperti kau berhak merasa bahagia. Kamu berhak menyesal sama seperti kamu berhak merasakan kesuksesan. Semua yang kau alami saat ini menjadikan hidupmu berharga. Percayalah, karena aku sudah melewati semua itu dan aku benar-benar merasa bangga diberikan kesempatan menjalaninya.
Kamu lebih cerdas, berbakat, dan kuat daripada apapun yang kamu pikir sekarang! Kamu cuma perlu lebih berani mengekspresikannya setiap hari. Kamu harus lebih sering menyayangi dirimu, karena tidak ada yang bisa membuatmu lebih bahagia daripada kamu sendiri. Kamu sangat berharga, karena itu hargailah dirimu sendiri. Kamu adalah orang terfavorit dalam hidupku, karena berkat kamulah aku bisa hidup, berkarya, sukses bahagia di jamanku ini. Asal tahu saja, kamu tidak akan pernah sendirian karena aku sudah, sedang dan akan selalu bersama kamu di sepanjang waktu. Aku ingin memelukmu saat ini juga, menepuk pundakmu dan membisikkan semuanya akan baik-baik saja, tapi aku tidak bisa.
Tampaknya, memori yang di simpan dalam surat ini sudah terlalu besar untuk suratku. Sampai disini dulu ya, dada.
Tertanda, kamu di masa depan