Saturday, August 13, 2016


Happy Graduation Marni!

Satu lagi kebahagian bertambah hari ini yang membuktikan bahwa begitu berlimpah berkat Tuhan dalam hidupku, hari ini tepatnya tanggal 13 Agustus salah satu sahabat saya wisuda,tentunya saya sangat bahagia untuknya.  Namanya Marni, sering ku sebut “nik” atau “cin”. Marni dan aku kenal sewaktu bangku SMA dan berlanjut sampai sekarang. Sedikit cerita tentang marni, dia adalah salah satu sahabat terbaik yang ada. Kenapa? Mulai dari kelas 2 SMA kita kemana-mana bareng,punya hobby yang sama yaitu dance *haha, sama-sama lemot dan suka cabut les hanya untuk latihan dance dengan anggota Bibi & Baba. Bahkan sewaktu kuliah kita juga sama-sama masuk Universitas yang sama yah meskipun jurusannya ga sama. Jujur sih sewaktu kuliah kita jarang banget ketemu tapi setalah udah beres kuliah kita baru jalan bareng lagi, bahkan sekarang satu kosan bareng dan sama-sama berjuang buat mencari pekerjaan.
Wish buat Marni, selamat udah bisa meraih gelar baru nik ingat selalu bersyukur atas apa yang Tuhan kasih buatmu dan pastinya semoga tercapai impianmu, aku pasti selalu ada buat mendukung! Apapun yang menjadi impian ku dan impian mu semuanya bisa terwujud. I love you nik to the moon and never back 


Friday, August 12, 2016

Awal Hidup #Part1


Pengalaman yang tak tergantikan

Semua ada masanya

Sekali lagi aku berkata kepada diriku apa artinya sebuah keberhasilan?
Pada tanggal 04 Maret 2016 aku merasa keberhasilan adalah di saat aku dapat menyelesaikan  jenjang penddikan S1 ku selama 3,5 belakangan ini. Lelah yang kurasakan terbayar sudah demi selembar ijazah,sebuah toga,selembar slide multimedia besar yang bertuliskan namaku dengan predikat cumlaude di bawahnya dan yang paling istimewa adalah sekuntum bunga mawar yang kupersembahkan untuk ibu ku di hari kelulusanku. Air mata beliau lah menjadikanku sangat bahagia dan merasa semuanya sudah terbayar. Jika diingat-ingat, momen itu adalah titik kurva tertinggi dalam grafik kehidupanku. Aku bagai berada di atas awan dan merasa sangat bangga atas diriku sendiri. Ya, mungkin itu (dulunya) arti keberhasilan menurutku.
Selama aku masuk kuliah,aku tidak tahu nantinya akan mau jadi apa,bagaimana, dan ingin bekerja dimana sekalipun. Aku, seorang job seeker (saat ini). Aku masih ingat tepat pada tanggal 14 Juli 2012 pertama kali aku masuk ke dunia perkuliahan di Universitas Telkom di kota Bandung, berjarak puluhan ribu kilometer dari tempat asalku,jurusan yang kuambil pada saat itu Ilmu Komunikasi,sebuah jurusan yang sangat tidak “familar” bagiku, mengingat aku dulunya adalah program IPA sewaktu SMA. Tapi takdir emang sudah ditentukan oleh Nya meskipun aku tidak mengetahui betul jurusan tersebut,puji Tuhan aku masih bisa melaluinya dengan baik bahkan melewati garis baik.
Back to the topik, sehabis aku wisuda aku beserta ibu ku pulang ke kampung halaman, alasan yang sangat sederhana yaitu karena aku sudah lulus paling tidak aku menggunakan kesempatan tiket pulang ini karena nanti kata ibuku jikalau sudah bekerja aku akan susah untuk pulang lagi. Tidak ada salahnya kupikir, jadi aku pulang selama kurang lebih 2 minggu kemudia aku kembali ke kota Bandung. Setelah aku kembali aku mencoba memasukan lamaran ke banyak perusahaan dan mengikuti jobfair-jobfair yang ada. Namun tidak ada satu pun yang “nyangkut” Begitu banyak tes yang kuikuti tapi aku selalu gagal. Aku depresi. Aku merasa tertekan karena kalah dalam ujian tersebut. Untuk itu aku mencoba konsultasi dengan kedua orangtuaku apakah aku bisa kembali pulang karena kebetulan pada saat itu bulan puasa dan pasti lah sedikit perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Dan untungnya kedua orang tuaku setuju dan aku kembali pulang setalah hanya 2 minggu di Bandung.
Namun tanpa diketahui kedua orangtua ku, alasan sesungguhnya aku ingin kembali pulang adalah karena aku depresi akibat selalu gagal mengikuti tes. Aku seorang pengecut yang bersembunyi setelah gagal dan takut untuk mencoba lagi. Bukan hanya kedua orangtuaku yang ku bohongi,namun aku juga berbohong pada diri ku sendiri. Sungguh sangat ironis jika mengingatnya,bahkan saat ini hatiku merasa dingin dan perutku merasa mual jika aku mengingat betapa pengeutnya diriku saat itu. Aku depresi dan mulai membandingkan diriku dengan orang lain. Peranyaan demi pertanyaan selalu muncul dalam otakku,mengapa ini semua bisa terjadi? Apa yang salah terhadap diriku? Mengaoa aku selalu berada di zona nyaman ku? Hal in adalah sebuah keputusan terburuk dalam hidupku yang mengantarkan aku dalam sebuah penyesalan. Aku sangat menyesal telah mengikuti jiwa pengecutku dan tidak mau melawannya.
Hari demi hari kujalani dengan perasaan yang sangat bersalah, ketakutan selalu datang menghampiriku. Aku takut untuk mencoba lagi dan aku takut gagal lagi. Semua ketakutan ku tertutupi denga kepura-puraan ku merasa tegar dan selalu beranggapan bahwa semua sudah disediakan oleh Tuhan. Tapi nyatanya, aku tidak mengimani perkataanku itu bahkan aku melarikan diri dari semuanya, dari teman-temanku yang sudah bekerja,media sosial,sahabt-sahabatku, dan dari semua orang yang mengenalku. Aku takut mereka apakah aku telah mendapatkan pekerjaan atau tidak. Aku benci dengan pertanyaan seperti itu. Tak terbayangkan bagiaman jadinya jika aku mendengar kalimat itu diucapkan kepadaku. Depresiku juga semakin bertambah dengan terjadinya sebuah pertengkaran dengan 2 orang sahabtku, aku tidak dapat mengatakan bahwa ini adalah pertegkaran karena masalahnya adalah aku dikhianati. Jadi kejadian ini bermula ketika salah satu sahabatku mengalami kecelakaan dan selama dia sakit aku lah yang menjaga dan merawatnya di rumah sakit, namun mungkin Tuhan memang ingin menunjukkan sesuatu yang harus kulihat dengan mata kepalaku. Pada saat sahabtku terbaring tidur, aku secara tidak sengaja melihat obrolan percakapan yang ada di dalam telepon genggamnya. Aku melihat mereka berdua menngatakan hal-hal yang negatif tentang diriku dan menganggap aku adalah orang yang tidak pantas untuk ditemani. Sontak saja aku langung merinding,gemetaran melihat obrolan tersebut. Hatiku menjerit, seumur-umur dalam hidupku baru kali ini aku dikhianati oleh sahabat-sahaba  t yang sangat kusayangi dengan tulus. Memang benar kata orang dulu tentang peribahasa”Karena nila setitik,usak susu sebelanga”. Persahabatan yang kami jalani selama 4 tahun seketika terputus karena masalah yang sangat kecil. Namun aku tahu di balik Tuhan menunjukkan ini semua, pasti ada makna terselubung yang Tuhan ingin tunjukkan kepadaku. Dan aku selalu mencoba bersyukur atas apa yang telah ditunjukkan Nya kepadaku.