Pengalaman yang tak tergantikan
Semua ada masanya
Sekali lagi aku berkata kepada diriku apa artinya sebuah
keberhasilan?
Pada tanggal 04 Maret 2016 aku merasa keberhasilan adalah di
saat aku dapat menyelesaikan jenjang
penddikan S1 ku selama 3,5 belakangan ini. Lelah yang kurasakan terbayar sudah
demi selembar ijazah,sebuah toga,selembar slide multimedia besar yang
bertuliskan namaku dengan predikat cumlaude di bawahnya dan yang paling
istimewa adalah sekuntum bunga mawar yang kupersembahkan untuk ibu ku di hari
kelulusanku. Air mata beliau lah menjadikanku sangat bahagia dan merasa
semuanya sudah terbayar. Jika diingat-ingat, momen itu adalah titik kurva
tertinggi dalam grafik kehidupanku. Aku bagai berada di atas awan dan merasa
sangat bangga atas diriku sendiri. Ya, mungkin itu (dulunya) arti keberhasilan
menurutku.
Selama aku masuk kuliah,aku tidak tahu nantinya akan mau
jadi apa,bagaimana, dan ingin bekerja dimana sekalipun. Aku, seorang job seeker (saat ini). Aku masih ingat tepat pada tanggal 14
Juli 2012 pertama kali aku masuk ke dunia perkuliahan di Universitas Telkom di
kota Bandung, berjarak puluhan ribu kilometer dari tempat asalku,jurusan yang
kuambil pada saat itu Ilmu Komunikasi,sebuah jurusan yang sangat tidak
“familar” bagiku, mengingat aku dulunya adalah program IPA sewaktu SMA. Tapi
takdir emang sudah ditentukan oleh Nya meskipun aku tidak mengetahui betul
jurusan tersebut,puji Tuhan aku masih bisa melaluinya dengan baik bahkan
melewati garis baik.
Back to the topik, sehabis aku wisuda aku beserta ibu ku
pulang ke kampung halaman, alasan yang sangat sederhana yaitu karena aku sudah
lulus paling tidak aku menggunakan kesempatan tiket pulang ini karena nanti
kata ibuku jikalau sudah bekerja aku akan susah untuk pulang lagi. Tidak ada
salahnya kupikir, jadi aku pulang selama kurang lebih 2 minggu kemudia aku
kembali ke kota Bandung. Setelah aku kembali aku mencoba memasukan lamaran ke
banyak perusahaan dan mengikuti jobfair-jobfair yang ada. Namun tidak ada satu
pun yang “nyangkut” Begitu banyak tes yang kuikuti tapi aku selalu gagal. Aku
depresi. Aku merasa tertekan karena kalah dalam ujian tersebut. Untuk itu aku
mencoba konsultasi dengan kedua orangtuaku apakah aku bisa kembali pulang
karena kebetulan pada saat itu bulan puasa dan pasti lah sedikit perusahaan
yang membuka lowongan pekerjaan. Dan untungnya kedua orang tuaku setuju dan aku
kembali pulang setalah hanya 2 minggu di Bandung.
Namun tanpa diketahui kedua orangtua ku, alasan sesungguhnya
aku ingin kembali pulang adalah karena aku depresi akibat selalu gagal
mengikuti tes. Aku seorang pengecut yang bersembunyi setelah gagal dan takut
untuk mencoba lagi. Bukan hanya kedua orangtuaku yang ku bohongi,namun aku juga
berbohong pada diri ku sendiri. Sungguh sangat ironis jika mengingatnya,bahkan
saat ini hatiku merasa dingin dan perutku merasa mual jika aku mengingat betapa
pengeutnya diriku saat itu. Aku depresi dan mulai membandingkan diriku dengan
orang lain. Peranyaan demi pertanyaan selalu muncul dalam otakku,mengapa ini
semua bisa terjadi? Apa yang salah terhadap diriku? Mengaoa aku selalu berada
di zona nyaman ku? Hal in adalah sebuah keputusan terburuk dalam hidupku yang
mengantarkan aku dalam sebuah penyesalan. Aku sangat menyesal telah mengikuti jiwa
pengecutku dan tidak mau melawannya.
Hari demi hari kujalani dengan perasaan yang sangat
bersalah, ketakutan selalu datang menghampiriku. Aku takut untuk mencoba lagi
dan aku takut gagal lagi. Semua ketakutan ku tertutupi denga kepura-puraan ku
merasa tegar dan selalu beranggapan bahwa semua sudah disediakan oleh Tuhan.
Tapi nyatanya, aku tidak mengimani perkataanku itu bahkan aku melarikan diri
dari semuanya, dari teman-temanku yang sudah bekerja,media
sosial,sahabt-sahabatku, dan dari semua orang yang mengenalku. Aku takut mereka
apakah aku telah mendapatkan pekerjaan atau tidak. Aku benci dengan pertanyaan
seperti itu. Tak terbayangkan bagiaman jadinya jika aku mendengar kalimat itu
diucapkan kepadaku. Depresiku juga semakin bertambah dengan terjadinya sebuah
pertengkaran dengan 2 orang sahabtku, aku tidak dapat mengatakan bahwa ini
adalah pertegkaran karena masalahnya adalah aku dikhianati. Jadi kejadian ini
bermula ketika salah satu sahabatku mengalami kecelakaan dan selama dia sakit
aku lah yang menjaga dan merawatnya di rumah sakit, namun mungkin Tuhan memang
ingin menunjukkan sesuatu yang harus kulihat dengan mata kepalaku. Pada saat
sahabtku terbaring tidur, aku secara tidak sengaja melihat obrolan percakapan
yang ada di dalam telepon genggamnya. Aku melihat mereka berdua menngatakan
hal-hal yang negatif tentang diriku dan menganggap aku adalah orang yang tidak
pantas untuk ditemani. Sontak saja aku langung merinding,gemetaran melihat
obrolan tersebut. Hatiku menjerit, seumur-umur dalam hidupku baru kali ini aku
dikhianati oleh sahabat-sahaba t yang
sangat kusayangi dengan tulus. Memang benar kata orang dulu tentang
peribahasa”Karena nila setitik,usak susu sebelanga”. Persahabatan yang kami
jalani selama 4 tahun seketika terputus karena masalah yang sangat kecil. Namun
aku tahu di balik Tuhan menunjukkan ini semua, pasti ada makna terselubung yang
Tuhan ingin tunjukkan kepadaku. Dan aku selalu mencoba bersyukur atas apa yang
telah ditunjukkan Nya kepadaku.
No comments:
Post a Comment